Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

keadilan-tanpa-pandang-bulu

Illustrasi Penegakan Hukum

Pada tahun ke-8 Hijriah, saat peristiwa pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah), ada sebuah kejadian besar yang menggemparkan kaum Muslimin di sana. Peristiwa itu adalah tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita terpandang dari Bani Makhzum. Bagi masyarakat Arab, Bani Makhzum adalah sebuah klan terpadang yang disejajarkan dengan Bani Hasyim, klan Nabi Muhammad SAW.

Mendapatkan laporan tersebut, Nabi SAW langsung bertitah agar wanita itu dipotong tangannya. Keluarga besar Bani Makhzum pun geger. Mereka tentu tidak mau menanggung malu mendapatkan salah satu anggota keluarganya dipotong tangannya. Ini akan menjadi aib bagi keluarga besar mereka.

Mereka memutar otak. Diambilah sebuah keputusan untuk meminta ampunan atau semacam keringanan dari Rasulullah SAW. Usamah bin Zaid, salah satu sahabat kesayangan Rasulullah SAW dimintai pertolongan. Keluarga besar Bani Makhzum meminta Usamah untuk mendekati Rasulullah agar beliau mau memberikan keringanan hukuman.

Datanglah Zaid kepada Rasulullah SAW menyampaikan apa yang diinginkan oleh Bani Makhzum. Mendapatkan hal itu, air muka Rasulullah SAW memerah seketika. “Apakah kamu meminta keringanan dalam masalah hukum Allah?!” tanya Rasul. Usamah pun tak berkutik. Dia merasa sangat bersalah dengan perbuatannya ini. “Maafkan saya Rasulullah. Maafkan saya,” pinta usamah.

Akhirnya hukum Allah SWT pun tetap ditegakkan. Tanpa melihat status sosialnya, wanita itupun dipotong tanganya. Malam harinya, Rasulullah SAW mengumpulkan para Sahabat. Rasulullah SAW ingin memberikan pelajaran penting tentang penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada mereka.

“Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, dikarenakan jika ada orang terpendang yang mencuri, mereka membiarkannya. Sedangkan apabila ada kaum lemah yang mencuri, mereka memberikan hukuman baginya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tanganya.” (HR Bukhari Muslim).

Kisah di atas adalah salah satu pelajaran berharga yang diajarkan Rasulullah SAW tentang penegakan hukum. Dalam konteks Indonesia, kisah tersebut sangat penting untuk direnungkan. Keterpurukan negeri kita saat ini – tepat seperti yang dikatakan oleh Rasulullah – salah satunya dikarenakan praktik tebang pilih dalam penegakan hukum. Seorang nenek miskin pencuri buah kakao mendapat hukuman penjara, sementara banyak sekali pejabat tinggi negara yang melakukan korupsi tak tersentuh hukum apa-apa.

Karena itu, untuk bangkit dari keterpurukan dan menghidari kebinasaan, para penegak hukum harus menyontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Mereka harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Tak peduli keluarga ningrat, konglomerat, kerabat, orang melarat, atau bahkan kerabat. Allah SWT berfirman,

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS al-An’am [6]: 152).

Comments

comments

Tags: , , , ,

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.