Apakah engkau berpuasa atas dasar kesenanganmu?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

puasa di bulan ramadhan

Makanan ini begitu menggoda sebelum Adzan Maghrib dikumandangkan

Jika anda bertemu dengan seorang pemain sepakbola, entah dia bermain di level kompetisi lokal atau nasional, coba tanyakan apa dasar dia bermain bola? Apakah atas dasar kesenangannya terhadap sepakbola atau bukan?. Mayoritas, mereka akan menjawab bahwa mereka bermain sepakbola karena memang atas dasar kesenangan mereka terhadap sepakbola. Ketika seseorang memutuskan bermain sepakbola, ia akan menghadapi resiko berupa kelelahan karena harus berlari kesana-kemari, menggiring bola, mengumpan bola, menendang bola dan pada saat yang bersamaan mereka juga tetap ikut berfikir bagaimana caranya menjebol gawang lawan.

Resiko lain yang harus dihadapi adalah cedera yang bisa saja datang kapan saja ketika ia di-tackling oleh pemain lawan pada saat ia menggiring bola. Atau bisa saja ia mengalami cedera pada saat berlari menggiring bola, tiba-tiba salah satu ototnya mengalami masalah. Kehadiran suporter, baik suporter sendiri ataupun suporter lawan juga tidak jarang menjadi beban tersendiri. Dukungan suporter sendiri bisa menjadi bumerang disaat para pemain memiliki beban harus menang. Cemoohan suporter lawan pun menjadi bagian intimidasi yang lain yang harus dihadapi ketika bermain sepakbola dalam sebuah turnamen.

Tetapi, dari sekian faktor yang menghiasi sebuah pertandingan sepakbola, tentulah ada satu alasan mendasar mengapa seseorang bermain sepakbola. Mungkin tidak semuanya memiliki alasan atas kesenangannya bermain sepakbola. Tetapi, apakah jika seorang pemain bola bermain sepakbola bukan atas dasar kesenangannya bermain bola kemudian ia mampu menampilkan performa terbaiknya di lapangan?

Pada dimensi yang lain, kita menemukan aktifitas-aktifitas yang lain yang sudah tentu memiliki alasan tersendiri pada saat kita melakukan aktifitas tersebut. Seorang guru mengajar, karena memang dia menyenangi dunia akademis dan senang berbagi ilmu. Seorang pedagang, pagi-pagi buta rela menuju ke pasar dan menggelar lapaknya karena memang jiwanya sudah menyatu dengan dunia jual beli. Apapun aktifitasnya itu, tentu ada alasan tersendiri bahwa sebenarnya seseorang melakukan sebuah aktfitas karena memang dia menyenangi dan menyukai aktifitas tersebut.

Lantas, apakah kita juga memiliki alasan yang sama ketika kita melaksanakan ibadah puasa?. Apakah kita benar-benar menyukai ibadah puasa? Sehingga kemudian di setiap akhir bulan ramadhan, banyak sekali dari kita yang berharap agar suasana Ramadhan tetap hadir meskipun sudah berganti bulan. Apakah memang kita benar-benar menyukai suasana Ramadhan? Apakah kita benar-benar menikmati suasana Ramadhan?. Semua jawabannya ada pada diri kita masing-masing, karena ibadah Puasa merupakan salah satu ritual ibadah yang sangat privat. Bahkan Allah sendiri begitu “posesif” terhadap ibadah Puasa yang kita lakukan ini.

Secara materi, kita memahami bahwa Ibadah Puasa adalah sebuah perilaku dimana seseorang menahan lapar, haus dan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari pada saat senja. Rentang waktu ini yang kemudian menjadi policy yang diputuskan oleh Allah terkait durasi waktu kita berpuasa. Namun, apabila dalam dimensi ruhani tentu jangkauan pemahaman puasa ini memiliki banyak sekali pemaknaannya.

Puasa sejatinya adalah implementasi dari pengendalian diri, karena orang yang berpuasa berani mengambil keputusan untuk “tidak” terhadap sesuatu hal yang sebenarnya bersifat “iya”. Pada ruang yang lain, puasa adalah sebuah keputusan dimana kita berani mengambil keputusan berupa “iya” terhadap sesuatu yang halal untuk “tidak”. Orang yang sedang berpuasa, dia berhadapan langsung dengan dunia, tetapi ia tidak mengambil dunia dan berani bersikap anti terhadap dunia dan mengambil jarak yang sangat radikal terhadap dunia. Berbeda dengan orang yang sedang sholat, dunia ada di belakangnya.

Lantas, apa hubungannya sepakbola dengan puasa?. Ketika seseorang memutuskan berolahraga sepakbola, maka ia akan menghadapi segala jenis resiko yang sudah saya jabarkan diatas. Jika kemudian kita memperluas ruang lingkup sepakbola yang kita bicarakan, maka akan lebih banyak lagi resiko yang akan ia hadapi. Begitu juga dengan keputusan seseorang untuk berpuasa, ia akan menghadapi segala macam resiko yang tentunya resiko-resiko tersebut merupakan hal yang harus ia hadapi. Ketika ia memutuskan untuk berpuasa, ia akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin tidak berpuasa misalnya. Jika anda berada di sebuah lingkungan yang tidak semuanya beragama Islam, anda akan menghadapi resiko seperti ini.

Seorang pemain sepakbola yang memiliki kesiapan mental yang tangguh akan mampu menjalani sebuah pertandingan sepakbola dengan tenang, meskipun atmosfer pertandingan di lapangan sangat tinggi. Ada beberapa tipikal pemain yang memang sangat tempramental, sehingga pada kondisi tertentu ia justru kewalahan mengahdapi dirinya sendiri. Tak jarang, seorang pemain harus rela diusir dari lapangan pertandingan karena ia melakukan pelanggaran yang fatal. Pemain yang tidak memiliki mental yang tangguh, sebaik apapun ia bermain bola ia akan menjadi pemain yang tidak berguna dalam sebuah pertandingan sepakbola. Apalagi dalam sebuah pertandingan yang sangat krusial, seperti pertandingan final misalnya.

Anggaplah Bulan Ramadhan ini adalah sebuah lapangan pertandingan sepakbola, dan kita adalah salah satu pemain sepakbola yang ada di dalam lapangan pertandingan tersebut. Tentu, setiap kita memiliki persiapan yang sangat matang dalam menghadapi pertandingan tersebut. Terlebih, kita sudah bertahun-tahun menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tentu dengan semakin banyakanya pengetahuan kita tentang Islam, semakin banyak pula bekal kita untuk memasuki bulan ramadhan.

Seorang pemain sepakbola yang memiliki mental yang tangguh, tidak akan mempedulikan seperti apa cemoohan suporter lawan, tidak akan memperdulikan seperti apa tekanan intimidasi yang diberikan oleh pemain lawan. Karena ia sudah bertekad, bahwa yang ia perjuangkan adalah kemenangan tim yang ia bela. Batu sandungan sebesar apapun dilapangan, bukan menjadi hal yang mengganggu demi tercapainya “idul fitri” berupa kemenangan atas tim lawan.

Jadi, jika kita masih merasa terganggu dengan dibukanya warung makan di siang hari pada saat bulan ramadhan, mungkin perlu kita tanyakan kedalam diri kita sendiri, apakah mental kita untuk memasuki bulan ramadhan kali ini memang masih level warung makan atau bahkan lebih rendah?. Bukankah godaan orang yang berpuasa itu justru lebih kompleks dari ibadah-ibadah yang lainnya. Jika kemudian kita menganggap bahwa warung yang buka pada siang hari tidak menghormati kita yang sedang berpuasa, apakah kemudian kita juga berani bersikap sama terhadap televisi di rumah kita atau handphone yang kita pegang setiap hari. Bukankah kehadiran dua benda itu juga cukup menjadi godaan tersendiri bagi kita?. Ayolah, ngaku saja.

Sehingga, bagi saya terasa sangat konyol ketika ada tuntutan agar warung makan tutup di siang hari dengan alasan untuk menghormati orang yang sedang berpuasa. Jika kita mampu mengelola diri kita terhadap televisi dan handphone yang kita hadapi setiap hari, kenapa kita juga tidak mampu mengelola hal yang sama terhadap warung makan. Toh, intensitas pertemuan kita dengan warung makan di siang hari saat bulan puasa tidak seintens yang terjadi jika kita bandingkan dengan televisi atau handphone yang kita pegang setiap hari bukan?.

Saya melihat, dari facebook saja, banyak sekali teman-teman saya yang muncul dengan postingan baru, bahkan hampir setiap jam. Ini hanya yang terlihat saja, berapa orang yang hanya bersikap sebagai silent reader, misalnya?. Berapa orang yang mungkin membuka handphone untuk melakukan percakapan dan saling berikirim pesan instant kepada orang lain. Berapa banyak yang juga hanya sibuk bermain game dengan handphone yang ia miliki saat siang hari di bulan Ramadhan?.

Jadi, anda ini sebenarnya pemain sepakbola yang sudah bermental juara, atau “pemain sepakbola” yang masih bersertifikat warung makan?

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.