PEMANFAATAN LINGKUNGAN BERDASARKAN FIKIH LINGKUNGAN YANG ISLAMI

Written by Amirul Bahri. Posted in Science

Oleh: Amirul Bakhri

A.    PENDAHULUAN

Wilayah pesisir terdiri dari bermacam-macam ekosistem yang secara biologis produktif dan memiliki keanekaragaman yang tinggi. Selain itu, sekarang wilayah pesisir dikembangkan sebagai kawasan perkotaan dengan adanya berbagai sarana pariwisata. Pada masa yang akan datang wilayah-wilayah pesisir dan sumber-sumber daya alam akan mengalami tekanan semakin besar untuk menanggulangi laju pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat dan  menunjang  pengembangan  dan diversifikasi (penganekaragaman) ekonomi negara.

Hal ini seperti yang terjadi di desa Blendung kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang. Di desa Blendung ini, mayoritas masyarakat di desa Blendung mengandalkan hasil budidaya ikan melalui tambak dan hasil dari pendapatan dari tangkapan nelayan di laut. Akan tetapi pada yahun 2000-an kemarin, pemerintah kebupaten berusaha mengembangkan sistem pariwisata pantai yakni Pantai Blendung yang sedikit banyak memang membantu dalam pendapatan sektor wisata di desa Blendung.

Dalam artikel ini, penulis akan berupaya menggambarkan pelestarian dan pemanfaatan lingkungan pesisir pantai Blendung yang terletak di desa Blendung kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang yang mana di pantai ini, memanfaatkan lingkungan dengan menggunakan sebagai budidaya tambak bandeng dan usaha pariwisata. Walaupun sebenarnya usaha pariwisata dan tambak yang ada di desa Blendung ini masih sangat sederhana. Dengan demikian perlu adanya pemanfaatan lingkungan dengan mengoptimalisasikan budidaya tambak dan pariwisata terebut agar menjadi sumber manfaat bagi masyarakat. Dalam menggali lebih dalam tentang usaha pelestarian ini, penulis mencoba memotret dengan menggunakan teologi pembangunan lingkungan. Di mana dari teologi pembangunan ini merupakan usaha membangun konsep pelestarian lingkungan berdasarkan keyakinan (wahyu) bahwa lingkungan sebagai karunia pemberian Allah Swt harus dijaga dan dilestarikan serta dimanfaatkan dengan pembangunan agar menjadi lebih bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia sebagai pengelola lingkungan.

B.     RUMUSAN MASALAH

Dari pendahuluan di atas, dalam artikel ini permasalahan yang akan di kaji antara lain:

  1. Bagaimanakah optimalisasi dalam memanfaatkan lingkungan pesisir pantai di desa Blendung?
  2. Bagaimanakah konsep teologi pembangunan tentang pemanfaatan lingkungan pesisir pantai dalam pandangan Islam?

C.    TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Dari pendahuluan dan rumusan masalah di atas, dalam penulisan artikel ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui optimalisasi pemanfaatan lingkungan pesisir pantai di desa Blendung.
  2. Mengetahui konsep teologi pembangunan tentang pemanfaatan pesisir pantai dalam pandangan Islam.

D.    GAMBARAN UMUM DESA BLENDUNG KABUPATEN PEMALANG

Kabupaten Pemalang terletak pada posisi antara 1090 17′ 30″ Bujur Timur – 1090 40′ 30″ Bujur Timur dan antara 060 52′ 30″ Lintang Selatan – 070 20′ 11″ Lintang Selatan. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan, di sebelah Barat dengan Kabupaten Tegal, di sebelah Utara dengan Laut Jawa sedangkan di sebelah Selatan dengan Kabupaten Purbalingga/Banyumas. Jumlah penduduk Kabupaten Pemalang  (tahun 2007)  sebanyak  1.371.757 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 682.642 jiwa (49,76%) dan perempuan sebanyak 689.155 jiwa (55,24%). Banyaknya rumah tangga di Kabupaten Pemalang sebanyak 317.952 RT, dengan rata-rata jumlah anggota sebanyak 4,3 jiwa atau 4 jiwa per rumah tangga, termasuk keluarga kecil. Berdasarkan kelompok umur penduduk, maka diketahui struktur umur penduduk Kabupaten Pemalang termasuk struktur umur muda. Hal ini diketahui  dari sebagian besar penduduk termasuk kelompok umur  muda (15 – 54 tahun). Jumlah penduduk pada kelompok umur belum produktif (0 – 14 tahun) sebanyak 398.085 jiwa (29,02%), kelompok umur produktif (15 – 64 tahun) sebanyak 872.724 jiwa (63,62%) dan kelompok umur tidak produktif (lebih dari 65 tahun) sebanyak 73.788 jiwa (7,36%). (Pemerintah Desa Blendung, 2000).

Di antara beberapa desa di kabupaten Pemalang, desa Blendung ini merupakan sentra budidaya tambak dan pariwisata pantai. Desa Blendung yang luasnya sekitar 250.000 ha berada di bagian Timur Laut Kabupaten Pemalang, dengan garis pantai sepanjang 1.275 meter yang langsung menghadap ke Laut Jawa. Saat ini, sebagian besar pemanfaatan ruang Desa Blendung adalah tambak, dimana luasnya pada tahun 2000 mencapai 1.885 Ha dari luas lapangan (Pemerintah Desa Blendung, 2000). Di desa Blendung ini memiliki sebuah pantai wisata yaitu Pantai Blendung. Pantai ini terletak di Desa Blendung kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang tepatnya berada sekitar 26 kilometer arah timur laut dari ibu kota kabupaten Pemalang. Akses untuk menuju ke Pantai Blendung cukup bagus. Dari pertigaan desa Ambokulon jalan raya Pantai Utara (PANTURA) ke arah utara dengan mengendarai sepeda motor / kendaraan pribadi hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menit (www.blendung.blogspot.com). Kondisi jalan yang mendekati bibir pantai itu saat ini sudah dibuat cukup mulus dengan kanan kiri jalan diapit tambak-tambak milik masyarakat sekitar, dan juga dibuat jembatan kecil yang menarik dengan dominasi warna biru muda. Sebagai semacam penanda memasuki kawasan Pantai Blendung terdapat gapura pintu masuk menuju pantai. Kondisi pantai ini masih cukup alami dan berhawa sejuk karena cukup rindang pohon-pohon yang ada di kawasan tersebut sehingga masyarakat menjadi nyaman.

E.     BUDIDAYA PERIKANAN TAMBAK DI AREAL MANGROVE

Budidaya sektor perikanan yang cukup intensif dikembangkan, terutama terkonsentrasi di desa-desa pesisir desa Blendung kecamatan Ulujami. Secara umum, kecamatan Ulujami yang di dalamnya adalah desa Blendung merupakan sentra budidaya perikanan tambak bandeng. Sekitar 90% dari lahan tambak yang ada di kabupaten Pemalang berada di kecamatan ini. Budidaya perikanan bandeng telah menjadi tradisi bagi masyarakat setempat dan meliputi areal seluas 1.885 Ha di sepanjang garis pantai dan merupakan gantungan hidup bagi sebagian masyarakat petani/nelayan yang telah merasakan manfaat keberadaan kegiatan budidaya bandeng selama ini. Data penduduk yang bekerja di sektor perikanan atau tambak dan nelayan dengan luas kawasan perairan laut kabupaten Pemalang yang mencapai luas sekitar 13.440 Ha hanya terdapat sekitar 13.000 jiwa saja nelayan yang bekerja pada tahun 1998. Aktivitas ekonomi lainnya yang dikembangkan yaitu pemanfaatan lahan yang ada dan didukung oleh budaya masyarakat setempat yaitu pertanian budidaya tambak bandeng seluas sekitar 1.885 Ha (Pemerintah Desa Blendung, 2000).

Usaha budidaya tambak yang dilakukan masyarakat di desa Blendung ini di sekeliling areal mangrove[1]. Hutan mangrove lebih dominan di daerah pantai utara karena faktor daya dukung lingkungannya. Mangrove sendiri dapat didefinisikan dengan istilah vloedbosh, kemudian dikenal dengan istilah payau karena sifat habitatnya yang payau. Berdasarkan dominasi jenis pohonnya yaitu bakau, maka kawasan mangrove juga disebut sebagai hutan bakau. Kata mangrove merupakan kombinasi antara kata mangue (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan dan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar atau hutan kecil (Soeroyo, 1986: 6).

Tumbuhan mangrove merupakan ekosistem peralihan atau dengan kata lain berada di tempat perpaduan antara habitat pantai dan habitat darat yang keduanya bersatu di tumbuhan tersebut. Komposisi mangrove ini mempunyai batas yang khas, batas tersebut disebabkan oleh efek selektif air tanah, kadar garam atau lamanya penggenangan dan kuatnya arus pasang surut. Jenis tersebut sangat berbeda dengan tumbuhan lain di hutan pedalaman tropis dan subtropis, ia dapat dikatakan merupakan suatu hutan di pinggir laut dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Akarnya yang selalu tergenang oleh air, dapat bertoleransi terhadap kondisi alam yang ekstrim seperti tingginya salinitas dan garam. Keberhasilannya disini barangkali tidak ada persaingan dengan tumbuhan lain yang tidak toleran terhadap garam dan penggenangan. Fungsi fisik dan biologis mangrove yaitu menjaga garis pantai agar tetap stabil dan melindungi pantai dari gelombang ombak serta memberikan fasilitas biota laut khususnya pesisir seperti ikan, kepiting dan lain sebagainya. Namun demikian tumbuhan mangrove juga membutuhkan daya dukung lingkungan substrat untuk hidup dan membentuk pola vegetasinya, semisal kondisi topografi permukaan substrat, kondisi pasang surut, dan kegiatan manusia. Kemudian karakterstik yang berbeda dari spesies tumbuhan ini menjadikan spesialisasi penggolongan ciri khas tumbuhan tersebut (Soeroyo, 1986: 6).

Usaha masyarakat dalam budidaya ini berada di sekeliling mangrove walaupun vegetasi mangrove dalam bentuk hamparan hampir tidak ditemui, melainkan hanya berupa deretan mangrove di sekeliling pematang tambak dengan total luas sekitar 40 ha, yang merupakan hasil pelaksanaan reboisasi dengan model tumpangsari tambak–mangrove sejak tahun 1993. reboisasi mangrove harus dilakukan pada areal sepanjang pantai selebar 100 meter ke darat dalam bentuk green belt hutan mangrove (Pemerintah Desa Blendung, 2000).

Walaupun sebagian masyarakat mengandalkan budidaya tambak dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka di samping ada yang masih mengandalkan mencari laut di laut lepas. Akan tetapi kehidupan masyarakat belum mengalami kemajuan atau peningkatan kesejahteraan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan mereka yang masih sangat kekurangan. Menurut pemaparan Eswoyo, dulu ketika tahun 70-an awal, di desa Blendung ini telah diadakan koperasi yang menampung hasil para pembudidaya ikan dan para nelayas untuk dijual atau dilelangkan kepada masyarakat. Koperasi yang dibangun ini merupakan swasembada masyarakat desa sendiri. Ketika pada awal 90-an, pemerintah Pemalang membangun Tempat Pelelangan Ikan  di desa Blendung ini karena hasil yang diperoleh para pembudidaya dan nelayan yang begitu besar. Namun setelah awal 2000-an, tempat ini menjadi tempat kosong, sepi dan dipindahkan oleh pemerintah Pemalang ke desa Ketapang. Sehingga masyarakat desa Blendung tidak bisa menjual dan melelangkan ikan-ikannya di tempat pelelangan. Lebih lanjut, Eswoyo memaparkan bahwa sebab kosongnya atau sepinya tempat pelelangan ikan di desa Blendung ini karena beberapa sebab di antaranya: mereka bukan petambak yang membudidaya bandeng di tambaknya sendiri, melainkan tambak milik orang lain dengan sistem bagi hasil dengan sistem sewa tanah. Walaupun ada beberapa yang membudidaya di tambak miliknya sendiri. Selain itu, dalam menjual hasil tambak para petani tambak, sekarang tidak ke tempat pelelangan ikan, akan tetapi ke tengkulak-tengkulak yang bermodal besar. Sehingga harga tawar para petani tambak menjadi berkurang.

F.     WISATA PANTAI BLENDUNG

Pantai Blendung terletak di desa Blendung kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang provinsi Jawa Tengah. Akses untuk menuju ke Pantai Blendung cukup bagus. Dari pertigaan desa Ambokulon Jalan Raya Pantai Utara ke arah utara dengan mengendarai sepeda motor/kendaraan pribadi hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menit. Terlebih lagi setelah pada 2008 Pihak dari Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang melakukan peningkatan sarana dan prasarana pariwisata di Pantai Blendung (www.blendung.blogspot.com).

Kondisi jalan yang mendekati bibir pantai itu saat ini sudah dibuat cukup mulus dengan kanan kiri jalan diapit tambak-tambak milik masyarakat sekitar, dan juga dibuat jembatan kecil yang menarik dengan dominasi warna biru muda. Sebagai semacam penanda memasuki kawasan Pantai Blendung terdapat gapura pintu masuk menuju pantai. Kondisi pantai ini masih cukup alami dan berhawa sejuk karena cukup rindang pohon-pohon yang ada di kawasan tersebut sehingga masyarakat menjadi nyaman. Hamparan pasir di sepanjang tepi pantai biasanya menjadi mainan bagi setiap masyarakat yang mengunjunginya. Fasilitas yang saat ini terdapat di sana di antaranya adalah gardu pandang yang dapat digunakan untuk menikmati pemandangan laut luas yang indah dari ketinggian (Pemerintah Desa, 2000).

Wisata Pantai Blendung sangat cocok di jadikan tujuan wisata keluarga disaat akhir pekan. Di samping tempatnya lumayan bagus, ongkos masuknya yang masih terjangkau yaitu 1.500 perorang. Hari-hari ramai pengunjung tempat wisata ini biasanya pada hari libur sekolah seperti hari minggu dan pada hari jumat Kliwon (hari jawa). Menurut petugas penjualan tiket masuk Pantai Blendung, Hasan mengatakan jumlah pengunjung pada hari libur Lebaran mencapai 400-500 orang, sedangkan pada hari libur biasa kurang dari 300 orang. Akan tetapi sayangnya, pengelolaan wisata ini masih sangat sederhana. Menurut Eswoyo, pantai ini hanya dikelola oleh pemerintahan desa dan belum ada bantuan apa-apa dari pemerintahan pusat untuk memajukan pariwisata di Pantai Blendung ini. Padahal jika dimaksimalkan, pantai ini akan menghasilkan penerimaan daerah khususnya penerimaan desa Blendung. sehingga dengan adanya pantai ini kesejahteraan masyarakat sekitar bisa diberdayakan dan dimakmurkan.

G.    OPTIMALISASI PEMANFAATAN LINGKUNGAN PESISIR PANTAI DI DESA BLENDUNG

Usaha budidaya tambak dan pariwisata yang masih sederhana di desa Blendung perlu dioptimalkan agar menjadi sebuah penghasilan bagi masyarakat pesisir pantai desa Blendung. Penulis akan menawarkan beberapa tawaran tentang optimalisasi pemanfaatan lingkungan pesisir agar menjadi berkembang dan terus maju.

1.    Optimalisasi Budidaya Tambak

Dari beberapa gambaran tentang usaha budidaya tambak di desa Blendung di atas, penulis merasa usaha budidaya tambak para petambak di desa Blendung perlu dioptimalkan dengan beberapa cara yaitu:

  1. Membangun kembali koperasi pelelangan ikan yang pernah berdiri sejak tahun 1970-an dan diperbaharui pada tahun 1990-an agar bisa menjadi sarana bagi petambak untuk mensejahterakan anggota koperasi. Untuk membangun kembali koperasi ini perlu dukungan dari pemerintah daerah Pemalang agar lebih memperhatikan kehidupan para petambak.
  2. Bagi para petambak harus mencegah para tengkulak-tengkulak untuk bisa memonopoli perdagangan ikan para petambak. Usaha untuk membina masyarakat agar tidak menjual hasil tambaknya kepada para tengkulak perlu disosialisasikan kepada desa Blendung dan juga kepada ketua koperasi di jaman dulu ketika koperasi pelelangan ikan masih berjalan. Hal ini perlu dilakukan karena dengan adanya para tengkulak, maka peran mereka (tengkulak) dalam mengendalikan harga sangat besar. Oleh karena itu perlu sosialisasi agar para petambak bisa menjual kembali di tempat koperasi pelelangan tambak demi kesejahteraan para petambak.
  3. Perlu adanya pelatihan-pelatian bagi para petambak dalam usaha memperbesar hasil tambak yang mereka kelola dengan peralatan yang lebih modern dari kementerian perikanan daerah Pemalang. Hal ini nampaknya yang belum dilakukan oleh dinas terkait dalam membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi bididaya tambak di desa Blendung.

2.    Optimalisasi Pariwisata Pantai Blendung

Dari beberapa pemaparn tentang pariwisata pantai Blendung kota Pemalang di atas, nampaknya pariwisata ini perlu di kembangkan dan dioptimalisasikan dalam usaha mensejahterakan amsyarakat dalam sektor ekonomi. Usaha untuk pengoptimalan ini haruslah didukung oleh pemerintah daerah Pemalang sebagai fasilitator dan pemangku anggaran daerah kota Pemalang. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha pengoptimalan pariwisata pantai Blendung yaitu:

  1. Perbaikan sarana akses atau menuju ke desa Blendung yang masih belum baik.
  2. Pembangunan sarana umum di sekitar pantai seperti toilet dan mushola yang belum ada di wilayah pantai Blendung.
  3. Pembangunan sarana hiburan di pantai Blendung sepertiJet ski, banana boat, atau penyewaan papan seluncur atau penyewaan pakaian renang dan lain-lain.
  4. Perlu adanya pengawas pantai yang mengawasi para pengunjung pantai. Karena selama ini, tidak ada petugas yang bisa menjadi penolong ketika ada yang tenggelam di laut.
  5. Perlu adanya beberapa rambu-rambu petunjuk yang bisa menjadi panduan para pengunjung dan juga menjadi kewaspadaan para pengunjung di areal pantai.
  6. Perlu di bangun sebuah tempat penginapan sejenis hotel atau villa untuk membantu para wisatawan yang datang dari jauh untuk bisa menginap di sekitar pantai.

 Beberapa rekomendasi tentang optimalisasi yang penulis paparkan di atas merupakan sebuah tawaran rekomendasi bagi pemerintah daerah Pemalang apabila memang serius dalam mengembangkan potensi lingkungan pesisir demi terciptanya wilayah pesisir yang sejahtera.

H.    PANDANGAN ISLAM DALAM PEMANFAATAN DAERAH PESISIR DARI KACAMATA FIKIH PELESTARIAN LINGKUNGAN

Pelestarian lingkungan menurut Mujiono Abdillah (2005: 60) adalah pelestarian terhadap daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang diupayakan dalam pembangunan. Pembangunan di sini pada hakikatnya adalah perubahan yang dilakukan manusia dengan tujuan untuk mengurangi resiko lingkungan dan memperbesar manfaat lingkungan untuk kemaslahatan manusia.

Ekologi Islam memiliki sistem teologi pembangunan yang dirancang sebagai pondasi konsep pembangunan berwawasan Islam. Konsep teologi pembangunan ini, dirumuskan dalam prinsip dasar teologi pembangunan Islam seperti yang diungkapkan Mujiono Abdillah (2001: 66) yang mana terdiri dari tiga pilar penyangga yaitu sebagai berikut:

  1. Pembangunan merupakan keniscayaan guna mengoptimalkan daya dukung lingkungan bagi kehidupan.
  2. Manusia merupakan makhluk pembangunan, maka kualitasnya ditentukan oleh hasil pembangunannya.
  3. Hakikat pembangunan adalah pembangunan holistik integratik yakni pembangunan berkeseimbangan dan berkesinambungan.

Islam memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana pelestarian lingkungan sebagai daya dukung bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Luqman ayat 20:

Artinya: “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah telah menciptakan ekosistem yang berada di langit dan bumi untuk membuat mu sejahtera secara lahir dan batin. Walau demikian, ada saja orang yang menganggap remeh terhadap manfaat ekosistem yang telah Allah ciptakan dengan tanpa pengetahuan dan refrensi yang kuat”

Ayat ke-20 dari surat Luqman di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt telah menciptakan ekosistem baik di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Maka dari itu lah, manusia mempunyai kewajiban untuk berupaya melestarikan lingkungan yang telah dihibahkan Allah kepada manusia ini dengan sebaik-baiknya.

Begitu halnya, ketika melihat apa yang ada di desa Blendung kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang yang memanfaatkan lingkungan sekitar untuk dilestarikan dan dibangun demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat desa Blendung. Di antara pelestarian dan pembangunan lingkungan tersebut adalah dengan budidaya tambak bandeng dan pariwisata Pantai Blendung. Usaha budidaya tambak ini merupakan sebagai usaha yang sangat cocok dikembangkan di pesisir pantai karena daya dukung lingkungan yang memadai. Sedangkan pengelolaan pesisir pantai sebagai pariwisata Pantai Blendung ini karena dilihat dari lokasi dan daya dukung yang ada, pantai Blendung ini di masa yang akan datang akan mendatangkan berbagai hal yang dapat mensejahterakan masyarakat. Pemanfaatan pantai Blendung dan budidaya tambak yang apabila dioptimalkan akan menjadi sebuah pemanfaatan yang sangat bermanfaat demi kesejahteraan masyarakat.

I.       DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Mujiono. 2001. Agama Ramah Lingkungan Perspektif Alquran. Cet. 1. Jakarta: Paramadina.

_______________. 2005. Fikih Lingkungan (Panduan Spiritual Hidup Berwawasan Lingkungan). Cet. 1. Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Http://www.blendungmycity.com./wisata-pantai-blendung-ulujami-pemalang.html. Diakses pada tanggal 10 Desember 2011 pada jam 10.00.

Soeroyo. 1986. Aliran Energi Pada Ekosistem Mangrove. Jakarta: LIPI.

Pemerintah Desa Blendung. 2000. Laporan Akhir Penyusunan Rencana Detail Objek Wisata Pantai Blendung.

Wawancara dengan bapak Eswoyo ketua pemimpin koperasi tempat pelelangan ikan di desa Blendung sebelum adanya penutupan, tanggal 11 Desember 2011 dari jam 09.30 sampai 11.00.

Wawancara dengan bapak Hasan petugas penjualan tiket masuk Pantai Blendung, tanggal 1 Januari 2012 jam 09.00.


[1] Mangrove merupakan komunitas tanaman yang hidup di daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau zona intertidal seperti muara sungai, rawa. Hutan mangrove merupakan salah satu komponen ekosistem pesisir yang bila berada dalam kondisi baik memiliki fungsi penting, baik sebagai pelindung pantai dari gelombang laut, tempat “parkir” air, dan menetralkan limbah, maupun sebagai habitat bagi berbagai jenis biota laut dan burung.

Comments

comments

Trackback from your site.

Comments (2)

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.