Kemunafikan Intelektual

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq | Email

Namanya Akhnas bin Syarik al-Tsaqafi. Dia dikenal sebagai sosok yang selalu berpenampilan menarik dan murah senyum. Akhnas pandai sekali beretorika dan menyusun kata-kata dengan gaya bahasa yang mengagumkan, penuh humor, tapi sangat menusuk perasaan. Gayanya yang santai, sesekali diselingi humor-humor kecil dan senyuman yang renyah membuat orang terpikat dan tak ada alasan untuk mencurigainya.

Ketika pasukan Islam terdesak dalam suatu pertempuran, Akhnas dan seorang temannya memanfaatkan momen ini untuk menampakkan kebusukan yang selama ini dia pendam. Kepada kaum Muslimin yang saat itu sedang dalam kondisi terpukul akibat kalah berperang, Akhnas berkata: “Celakalah mereka yang terpedaya dan terbujuk mengikuti ajaran Muhammad, sehingga mereka terbunuh dan akhirnya mereka tidak bisa hidup tenteram lagi bersama keluarga dan sanak saudaranya.”

Tak lama setelah perkataan itu keluar, Allah pun menurunkan ayat al-Quran yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS al-Baqarah: 205).

Setelah ayat itu turun, kaum Muslimin pun tahu siapa sebenarnya Akhnas al-Tsaqafi. Tokoh yang satu ini ternyata seorang munafik yang sangat gigih menentang penyebaran ajaran Islam dengan cara mengadu domba sesama kaum Muslimin. Dia sengaja masuk Islam untuk meruntuhkan Islam dari dalam.

Menggunting dalam lipatan

Dalam sejarahnya, musuh yang paling berbahaya bagi Islam adalah kemunafikan. Sejak zaman Rasulullah, telah ada segolongan orang yang hidupnya “mencla-mencle” tidak punya pendirian. Selain Akhnas al-Tsaqafi, tokoh munafik lain yang sangat berbahaya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Tokoh munafik satu ini sangat getol menghancurkan Islam dengan cara menggunting dalam lipatan. Berkali-kali dia menyebarkan fitnah bohong yang membuat kaum Muslimin terpecah. Tak tanggung-tanggung, istri Rasulullah SAW, Aisyah RA pun dia fitnah dengan menuduhnya berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal usai Perang Bani Musthaliq. Kejadian itu benar-benar membuat kekacauan di Madinah, sehingga Allah menurunkan al-Quran untuk menjawabnya.

Pada masa Khulafa Rasyidin, tipu daya kaum Munafik semakin kentara. Karena ulah mereka Islam terpecah menjadi sekte-sekte kecil yang saling mengafirkan sesama. Golongan-golongan itu diadu domba, dipanas-panasi, dan dipertentangkan sehingga terjadilah fitnah yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Lebih jauh setelah itu, keruntuhan kekhalifahan Utsmani yang merupakan akhir kehalifahan dalam Islam juga tak lain akibat tipu daya kaum hipokrit ini. Adalah Mustafa Kamal yang menjadi biang kerok di balik bencana paling besar yang diderita oleh kaum Muslimin pada abad ke-20 ini. Dengan masih mengaku Muslim, Mustafa Kemal justru memberangus Islam dari daratan Euro-Asia tersebut. Syiar-syiar Islam dilarang, masjid-masjid dikosongkan, dan adzan diganti dengan bahasa Turki.

Akhnas baru dalam ranah keilmuan

Dalam konteks dunia keilmuan Islam kontemporer, Akhnas-Aknas baru ternyata banyak sekali ditemukan. Dengan kata-kata manis bersulam sutra, seorang yang mengaku Muslim dengan lantang mengatakan bahwa hukum Tuhan itu tidak ada. Menurut mereka, hukum-hukum yang dianggap sebagai hukum Tuhan pada hakikatnya adalah hukum manusia yang “dituhankan”. Mereka dengan mudah memutarbalikkan ayat-ayat al-Quran untuk menyerang al-Quran itu sendiri. Ya, mereka mengaku Muslim, tapi mereka justru bersekongkol dengan pembenci Islam untuk menghancurkan Islam.

Mereka duduk di kursi-kursi penting pemerintahan dan pos-pos tinggi dalam dunia pendidikan. Ada yang berpangkat rektor universitas Islam; ada yang berlabel profesor Tafsir dan Ulumul Quran; ada yang bergelar guru besar Syariah Islamiyah; dan lain sebagainya. Meski membawa nama Islam dan keilmuan Islam, mereka justru menggerogoti nilai-nilai Islam.

Mereka mengaku wanita Muslimah, namun melarang penggunaan kerudung dan membolehkan lesbian. Kata mereka, menutup kepala adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah, sedangkan lesbian adalah gaya hidup masyarakat modern. Mereka mengaku sebagai cendekiawan Muslim, namun menolak penegakan syariat karena dianggap sudah ketinggalan zaman. Mereka mengaku sebagai guru besar dan pemerhati Studi al-Quran, namun mereka beranggapan bahwa al-Quran adalah hasil rekayasa tim kodifikasi pada masa Utsman, bukan sebagai kalam Tuhan.

Di sinilah, umat Islam dibuat bingung, sementara pembenci Islam dibuat girang tak kepalang. Bagaimana tidak girang, jika mereka (para pembenci Islam) tak perlu repot-repot menyerang, karena mereka mempunyai prajurit dari barisan Islam sendiri. Cukup dengan memberi amplop berisi dolar, mereka bisa duduk manis menonton dari jauh ‘kurusuhan’ yang ditimbulkan oleh prajurit-prajurit mereka itu.

Karena sedemikian besar bahaya kaum munafik, maka tak salah jika al-Quran memuat banyak sekali ayat yang membongkar kebusukan hati mererka. Setidaknya, ada empat tipu daya kaum munafik yang diceritakan oleh al-Quran.

Pertama, mereka menggunakan kata-kata indah saat berbicara, sehingga orang yang mendengarnya terpesona dan terpengaruh. Melalui pengaruh kata-kata dan permainan logika, kaum Muslimin awan akan dengan mudah terpedaya. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS al-Munafiqun: 4).

Kedua, kaum munafik sangat mudah bersumpah. Untuk meyakinkan orang lain, mereka tak segan-segan menyebarkan fitnah dengan mengatasnamakan Allah. Dengan cara itu, mereka merasa memperdayai Allah dan kaum Muslimin, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang terpedaya. “Sesungguhnya orang-orang munafik memperdayakan Allah, padahal Allah memperdayakan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan bermalas-malasan. Mereka riya (ingin dilihat) oleh manusia, dan mereka tidaklah mengingat Allah melainkan sedikit.” (QS. an-Nisaa: 142).

Ketiga, mereka seolah-olah menjadi para pembaharu yang menginginkan kebaikan, padahal sejatinya mereka adalah perusak dan aktor di balik timbulnya banyak kerusakan, terutama kerusakan moral dan intelektual. “Dan apabila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka berkata: `Sesungguhnya kami sedang membangun’. Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang merusak, akan tetapi mereka tidak sadar.” (al-Baqarah: 11–12).

Keempat, mereka suka mengeluarkan kata-kata keji untuk menghina orang Muslim yang taat dengan agamanya. Orang yang ingin mencegah kemungkaran mereka anggap radikal, orang yang mengajak untuk berjihad mereka bilang teroris, orang yang mengajak untuk menegakkan syariat Islam mereka anggap bodoh, berpikiran sempit, jumud, fundamentalis, dan kata-kata serampangan lainnya. “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah seperti orang-orang lain beriman’ mereka berkata, ‘Apakah kami harus beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman?’ Seseungguhnya mereka itulah orang-orang bodoh tetapi mereka tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 17).

Comments

comments

Tags: , , , , , ,

Trackback from your site.

Comments (3)

  • annurrochmat

    |

    mantap gan…nt orang pertama nih kelihatannya yg nge-post tulisan beginian…tancap terus…. biar tambah banyak ilmu nih kita

    Reply

  • hasanmahmudy

    |

    dahsyat mas bro..
    makasih buat masukan nya. Izin share ya..

    Reply

  • adnan kusuma

    |

    mantap sekali …..

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.