Bangsa Spesial

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sejarah menceritakan kepada kita bahwa selama 3,5 abad Belanda menjajah tanah Nusantara ini. Merampok hasil bumi Nusantara. Mereka bangun negara mereka dangan hasil bumi Nusantara. Namun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 195, Belanda pun tidak benar-benar melepaskan cengkramannya, dan sekarang, kita pun secara sadar merasakan bahwa bangsa barat masih menjajah Indonesia, meskipun bukan dalam konteks penjajahan dengan mengerahkan kekuatan militer.

Jauh sebelum itu, Nusantara pernah merasakan kejayaan era Sriwijaya dan Majapahit yang begitu berkuasa, konon wilayah kekuasaan Majapahit menjangkau hingga Madagaskar. Salah satu peninggalan Patih Gajah Mada yang sangat fenomenal adalah Sumpah Palapa. Dengan lantang ia bersumpah, bahwa sebelum Nusantara berhasil disatukan, ia tidak akan menikmati kenikmatan duniawi. Analisis saya terhadap sumpah palapa Patih Gajah Mada adalah ; betapa kaya raya Nusantara ini, bukan hanya kekayaan alam tapi juga kebudayaan, sehingga Patih Gajah Mada berusaha unutk menyatukan Nusantara, bukan unutk merampok hasil kekayaan, justru Patih Gajah Mada ingin Nusantara ini kuat, bukan untuk menjajah bangsa lain, namun untuk mengayomi bangsa lain.

Kesalahan fatal manusia Indonesia, salah satunya adalah karena tidak setia dengan kata-kata. Sepele, namun fatal. Satu contoh, Ratu. Kebanyakan dari kita mengartikan Ratu adalah sosok wanita sebagai pendamping Raja. Kemudian diaplikasikan dalam kehidupan, bahwa kekuasaan Ratu berada dibawah kekuasaan Raja. Padahal, Ratu sejatinya adalah pemimpin itu sendiri, maka di Jawa dalam sebuah Kerajaan dikenal istilah Keraton. Dalam bahasa Jawa Raja adalah Ratu itu sendiri, entah siapa yang pertama kali mengajarkan kepada kita bahwa Ratu adalah sosok wanita, sedangkan Raja adalah sosok pria. Imbasnya, pemahaman tentang kepemimpinan di Indonesia ini ditafsirkan sebagai wadah untuk menguasai kekayaan yang ada di Indonesia. Ketidak setiaan orang Indonesia terhadap kata diperparah dengan penggunaan kata-kata yang tidak pantas pada tempatnya. Lihatlah nama-nama top level digunakan untuk nama grup musik. Raja, Ratu, Dewa, Dewi, Mahadewi, Wali, bahkan sekarang sudah ada band yang menggunakan nama Jibril. Lama-lama akan ada warung lesehan dengan menu tempe penyet Izrail. Bisa dibayangkan tingkat kepedasan sambalnya.

Modus korupsi di Indonesia pun semakin religius. Kalaulah beberapa waktu yang lalu, ada yang menggunakan istilah apel malang dan apel washington, pada korupsi di departemen yang lain menggunakan padanan kata yang lebih dahsyat. “Tolong yang 10% disisihkan untuk pak Kyai, 10% lagi disisihkan untuk Pondok Pesantren. Atau kalau perlu, nanti kita tahlilan di Hotel X.” Inilah hebatnya koruptor di Indonesia, Tuhan saja berani mereka tipu. Statuta FIFA ditakuti, tapi Statuta Tuhan dengan gampangnya dilanggar. Konon, akibat ulah koruptor di Indonesia, iblis mengajukan permohonan pensiun dini kepada Tuhan.

Tapi, sebuah fakta tidak terbantahkan; kelemahan rakyat Indonesia adalah kekuatan mereka. Dengan sekian banyak pengalaman penindasan yang sudah dialami rakyat Indonesia, justru hal tersebut melahirkan sebuah genetika manusia yang memiliki mental yang sangat tangguh. Ditempeleng, dicuri, dirampas, dirampok, ditipu, dibohongi tapi rakyat Indonesia memiliki ketahanan yang luar biasa. Bangsa barat tidak akan mampu mengalami apa yang dialami rakyat Indonesia saat ini, bahkan negara-negara timur tengah menjadikan rakyat Indonesia referensi teratas dalam proses pembangunan bangsa mereka paska Arab Spring yang mereka alami. Kekuatan manusia Indonesia adalah ketangguhan mental yang luar biasa, namun justru kekuatan ini yang menjadi kelemahan rakyat Indonesia. Para penguasa semakin nikmat merampok, bertindak semena-mena, bahkan mempersilahkan bangsa asing mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia meskipun dengan hitungan bagi hasil yang merugikan. Tapi ada sebuah pesan yang tersirat; “Jangan sekali-sekali menindas manusia Indonesia, karena yang menindas yang akan kalah”. Ilmu Katuranggan manusia Indonesia adalah Tanah. Semakin diinjak, semakin kuat. Setiap tahun rakyat Indonesia rela membayar pajak  tanpa menagih dari apa yang mereka sudah bayarkan kepada negara. Manusia Indonesia adalah manusia hibrida. Entah manusia yang terbuat dari campuran gen apa saja yang berada dalam tubuh manusia Indonesia. Semakin menderita, justru semakin mampu menikmati penderitaan. Ekonomi global diguncang krisis, tapi manusia Indonesia tidak perduli, bahkan tidak merasakan sedikitpun imbasnya. Mereka tetap fokus menjalani kehidupan mereka masing-masing, tetap berusaha agar dapur mereka tetap ngebul.

Lihatlah mereka dipojok sebuah pasar, dipinggir jalan, diwarung-warung. Mereka tetap menikmati hidup, tertawa riang, ketangguhan yang luar biasa. Kalaupun mereka merasakan sebuah kesedihan, dalam kurun waktu yang singkat, kesedihan mereka rubah dengan formula mereka sendiri menjadi sebuah kebahagiaan. Beras mahal, mereka ciptakan makanan pokok pengganti yang tidak kalah bergizi dari beras. Bahan bakar alternatif bermunculan ditengah ketakutan global akan menipisnya cadangan minyak bumi, kendaraan bermotor yang menurut peraturan negara pembuatnya sudah tidak layak pakai justru semakin dimanfaatkan demi berputarnya roda ekonomi. Limbah potongan kayu mampu disulap menjadi mainan anak. Bahan sederhana mereka olah menjadi souvenir pernikahan yang menarik. Dunia kuliner berkembang begitu pesatnya. Dan masih banyak lagi kreatifitas manusia Indonesia yang diaplikasikan untuk bertahan hidup. Manusia Indonesia ketika ia jatuh, ia memiliki semangat untuk kembali bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Mereka tidak mengenal kata “trauma”. Ketika mengalami sebuah musibah, mereka tidak mengeluh, tidak jarang mereka tetap bersyukur ketika jatuh tersandung saat berjalan, “alhamdulillah, cuma lecet sedikit”, bahkan tidak jarang yang sambil mengumpat ketika jatuh terpleset, “jancuk,, untung nggak patah sikilku”. Ketika mengalami musibah sekalipun, manusia hibrida ini masih mampu bersyukur, meskipun dengan dialektika yang sedikit radikal. Bagaimana mungkin manusia tangguh seperti rakyat Indonesia ini merasakan penderitaan?. Manusia Indonesia adalah manusia yang sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa barat. Yang bisa ditipu oleh barat adalah Pemerintah Indonesia, bukan rakyatnya.

Sejarah tinggal sejarah. Hanya dimaknai sebagai tulisan kenangan saja. Indonesia saat ini bagaikan Majapahit tanpa Patih Gajah Mada. Indonesia saat ini memiliki sosok Hayam Wuruk, tapi tidak memiliki sosok Patih Gajah Mada. Harapan kita adalah, 2 tahun lagi, Patih Gajah Mada yang sangat dibanggakan oleh Majapahit ini benar-benar akan muncul di bumi Nusantara ini. Insya Allah.

Comments

comments

Tags: ,

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.