Revolusi Indonesia, Haruskah?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Rakyat Indonesia saat ini berada pada titik kebingungan dalam menentukan kepemimpinan siapakah yang lebih baik antara Soekarno, Soeharto, Gus Dur atau SBY. Habibie dan Megawati tidak masuk dalam urutan kepemimpinan Indonesia yang alami, karena mereka berdua adalah Wakil Presiden yang melanjutkan tonggak kepemimpinan Presiden yang dimakzulkan. Mereka hanya diakui sebagai Presiden berdasarkan konstitusi.

Saya cuplik sedikit postingan teman kita, Harda Armayanto ; “Namun ada kabar mengejutkan, sebuah survei yang dilakukan oleh Indo Barometer mengatakan bahwa mantan Presiden Soeharto lebih baik dan populer daripada presiden saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono. Dari survei, lima puluh persen responden percaya bahwa kehidupan mereka tidak membaik hari ini, sementara lebih dari sepertiga memilih Soeharto sebagai presiden favorit mereka. 36,5 persen responden memilih Soeharto sebagai presiden terbaik, maka SBY (20,9 persen), Soekarno (9,8 persen), Megawati (9,2 persen), BJ Habibie (4,4 persen), dan Abdurrahman Wahid / Gus Dur (4,4 persen). Dan yang lebih mengejutkan adalah 40,9 persen responden dari penduduk pedesaan dan perkotaan mengatakan bahwa rezim Orde Baru di bawah Soeharto lebih baik dibandingkan era reformasi. Hanya 22,8 persen mengatakan bahwa era reformasi lebih baik dari sebelumnya, sedangkan 3,3 persen lebih suka berada di bawah era Soekarno / Orde Lama.”

Tidak penting memperdebatkan lembaga surveinya, namun yang harus digaris bawahi adalah fakta bahwa tingkat kepuasan rakyat terhadap kepemimpinan di Indonesia mengalami kemunduran yang cukup drastis. Saat kepemimpinan Soekarno kita tidak merasakannya, namun saat kita kecil hingga sekolah dasar, kita mengalami masa kepemimpinan Soeharto atau yang lebih dikenal dengan rezim Orde Baru. Dari paparan survey diatas, terurai fakta bahwa mayoritas rakyat Indonesia merindukan masa-masa kepemimpinan Soeharto. Memang harus diakui, bahwa Soeharto adalah diktator Indonesia selama 32 tahun, sampai saat ini tidak ada yang berani membeberkan fakta sejarah yang sebenarnya tentang pemberontakan G 30 S PKI 1965 yang menjadi titik awal kemunculan Soeharto. Sama halnya dengan Supersemar yang konon juga kontroversial, pun hingga sekarang tidak ada yang mampu membuka fakta yang sebenarnya. Namun, harus diakui selama 32 tahun Soeharto memimpin Indonesia, program pembangunan 5 tahun berjalan dengan lancar, bahkan berbagai prestasi bangsa kita saat itu diakui oleh dunia, salah satunya adalah swa sembada beras dan minimnya konflik antar suku dan agama.

Proses pemakzulan Soeharto sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1992, saat itu Soeharto dengan terang-terangan mengalihkan pandangan politiknya dari Militer ke Islam. Masyarakat dunia mulai melihat Soeharto memakai identitas Islam, mulai dari peci hingga penambahan gelar Haji Muhammad Soeharto. Puncaknya adalah kemunculan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Salah satu undang-undang penguasa ekonomi dunia adalah : Indonesia boleh unggul dibidang ekonomi, politik dan kebudayaan. Namun jangan pakai peci. Alias jangan sampai Islam berkuasa di Indonesia. Sehingga ketika Soeharto secara terang-terangan mengalihkan pandangan politiknya, sontak Amerika merencanakan pemakzulan Soeharto yang pada puncaknya tahun 1998 Soeharto lengser keprabon. Muncullah sosok Amin Rais sebagai tokoh utama pemakzulan Soeharto, saat itu beliaulah yang selalu muncul di berbagai media bersama para mahasiswa dan aktivis mahasiswa saat itu.

Sebenarnya, Soeharto tidak takut sama sekali dengan Amin Rais, seekor macan tidak akan takut berhadapan dengan macan. Soeharto sama sekali tidak takut dengan gerakan Mahasiswa saat itu. Andaikata rakyat Indonesia tidak marah, Soeharto akan dengan mudah membuat Amin Rais dan mahasiswa yang menduduki gedung DPR untuk diam. Namun, kemarahan Rakyat yang sudah meluas, mulai dari penjarahan, pemerkosaan terhadap masyarakat tionghoa, pembakaran toko-toko dan seterusnya membuat hati Soeharto tidak tega, maka dengan lapang dada, Soeharto menyatakan mundur dari kursi kepresidenan. Bahkan Soeharto membuka dada dan tangannya dengan “4 Sumpah”: “Pertama, saya, Soeharto, mantan Presiden RI, bersumpah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rakyat Indonesia bahwa saya tidak akan melakukan apapun untuk menjadi Presiden lagi. Kedua, untuk turut campur dalam pemilihan Presiden. Ketiga, siap diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahan saya selama menjadi Presiden. Keempat, siap mengembalikan harta rakyat berdasarkan putusan Pengadilan Negara….”. Namun sampai akhir hayatnya, Soeharto tidak pernah diproses oleh pengadilan negara. Karena Soeharto tahu bahwa ia tidak akan diadili, hanya akan dikutuk dan dibenci, itupun hanya dalam kurun waktu seperlima dari masa kepemimpinannya.

Setelah lengser, ia tenang-tenang saja hidup di cendana, menjalani hari-hari tuanya, hatinya hanya perih melihat anak-anaknya, menyesali dirinya yang tidak mampu mengaplikasikan ilmu katurangga dan ilmu pranatamangsa dalam keluarganya, padahal 32 tahun ia mampu mengaplikasikan dalam kepemimpinannya di Indonesia. Sekejam-kejamnya Soeharto, ia tidak menjadi seorang pengecut dengan mencari suaka keluar negeri. Sampai akhir hayatnya, ia berada di Indonesia, menikmati hari tua, menjalani proses taubatan nasuha, hingga akhirnya ia kembali ke haribaan-Nya.

Fakta yang terjadi kemudian adalah kemunculan soeharto-soeharto baru di Indonesia, kalaulah dulu selama 32 tahun hanya ada seorang Soeharto, hari ini kita melihat sosok Soeharto diberbagai tempat. Karena pada faktanya, para pejuang reformasi bertujuan mengincar kursi yang sangat empuk yang diduduki oleh Soeharto selama 32 tahun. Saat ini kita melihat banyak sekali diktator yang berkuasa, rakyat Indonesia bingung, diktator yang mana yang harus dilengserkan. Bahkan pada titik ini, rakyat Indonesia bingung dengan kepemimpinan SBY, bingung menentukan apakah SBY itu presiden beneran atau presiden jadi-jadian?. Presiden yang sangat sigap memberikan pidato saat video porno Ariel dan Luna maya beredar, namun sangat lamban mengeluarkan statemen ketika KPK digembosi. Presiden yang begitu cepat menyampaikan pidato belasungkawa kurang dari 2 jam setelah Mbah Surip meninggal dunia, namun untuk menyatakan protes terhadap agresi militer Israel di jalur Gaza, membutuhkan waktu beberapa hari, itupun melalui mulut menteri luar negeri. Presiden yang tidak melepaskan identitasnya sebagai Presiden saat pertemuan partainya, Presiden yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa Amerika adalah rumahnya. Presiden yang lebih dikenal oleh rakyatnya sebagai sosok pemimpin yang lebih sering mengeluh dengan jargon “prihatin”.

Lebih dari satu dekade sudah Reformasi berlangsung, namun apakah benar yang kita rasakan saat ini adalah Reformasi yang dicita-citakan 14 tahun yang lalu?. Betapa beruntungnya pemerintah Indonesia memiliki rakyat Indonesia yang sedemikian tangguh. Rakyat yang lebih sering tidak bergantung sama sekali kepada pemerintahan negaranya, tidak perduli siapa presidennya, siapa gubernurnya, siapa bupatinya sampai siapa lurahnya. Rakyat hanya ribut urusan demokrasi pada setiap 5 tahun sekali saat pesta demokrasi berlangsung pada skalanya masing-masing. Faktanya, setelah Jokowi terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, warga Jakarta sudah lupa dengan isu SARA yang sempat digembar-gemborkan oleh tim sukses Foke pada masa kampanye. Saat ini mereka justru merasakan kekaguman pada sosok Jokowi yang berani turun langsung ke pemukiman penduduk, walaupun memang itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin, harus sangat dekat dengan rakyatnya, harus memahami problem yang dihadapi oleh rakyatnya, kalau perlu, Jokowi tidak boleh kenyang sebelum seluruh warga Jakarta kenyang. Kalaulah ayam berkokok, tentulah kucing mengeong, maka anjing menggonggong dan burung pasti berkicau.

27,5 tahun adalah rata-rata usia rakyat Indonesia saat ini, kita berada dalam rombongan ini. 10-20 tahun yang akan datang, kitalah yang memegang kendali kepemimpinan bangsa ini. Tidak jadi soal dimanakah nantinya ruang lingkup skalanya, lokal atau nasional. Rakyat Indonesia memiliki sifat genetika yang tidak bisa diduplikat oleh bangsa lain. Genetika unik dari orang Indonesia ini adalah mental tangguh yang sudah mendarah daging. Kalaulah ada masa dimana seorang pemuda/pemudi sedih ditinggal kekasihnya, itu hanya akting sebentar dan akan berlalu dalam hitungan hari. Bahkan, semakin ia disindir oleh teman-temannya, semakin kebal dan semakin tangguh mentalnya, dan merasakan hal yang biasa ketika kembali merasakan sakitnya ditinggal kekasih pujaan hatinya. Rumus mengobati frustasi di Indonesia sangat beragam. Di Indonesia, pecandu minuman keras, tidak peduli ia mampu membeli sebotol minuman keras atau tidak, justru ia mampu menciptakan minuman keras oplosan yang lebih keras daripada yang beredar di pasaran.

Sejarah menceritakan kita dijajah 3,5 abad oleh Belanda, namun pada akhirnya Belanda bingung sendiri, kehabisan tenaga mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Rakyat Indonesia adalah manusia yang sangat tangguh, tidak mudah hancur dengan ketidak menentuan keadaan negara, ketika krisis ekonomi melanda beberapa negara eropa, rakyat Indonesia semakin kreatif mencari solusi untuk bertahan hidup, lihatlah fakta kreatifitas rakyat Indonesia disegala bidang, berbagai bahan bakar alternatif diciptakan, kendaraan yang oleh negara produsennya sudah dianggap tidak layak pakai, oleh orang Indonesia justru semakin dimanfaatkan untuk kehidupan ekonomi, dunia kuliner Indonesia berkembang pesat, hingga mungkin sisa usia kita tidak cukup untuk mencoba satu persatu ragam kuliner Nusantara saat ini. Beberapa daerah berhasil mengelola tempat wisata baru yang lebih eksotis dibandingkan dengan yang dimiliki oleh negara lain. Rakyat Indonesia tidak takut dengan ancaman embargo ekonomi dunia, justru rakyat Indonesia menantikan momen embargo tersebut. Karena justru pada saat Indonesia di embargo nanti, Indonesia akan semakin kaya. Banyak orang mengatakan, andaikan surga mencipratkan sedikit saja keindahan dan kekayaannya, maka cipratan itu adalah Indonesia.

Maka, perlukah Revolusi dilakukan di Indonesia seperti dibeberapa negara di timur tengah?. Perlukah Revolusi seperti yang dialami negara timur tengah yang dikenal dengan istilah Arab Spring itu terjadi di Indonesia juga?. Presiden pertama Indonesia turun tahta setelah dikudeta secara militer, presiden kedua Indonesia turun tahta setelah terjadi demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan rakyat yang meluas, presiden ketiga Indonesia turun tahta melalui proses Sidang Istimewa MPR. Maka, presiden Indonesia yang keempat ini mungkin juga akan turun tahta sebelum habis masa kepemimpinannya, entah dengan cara apa ia dimakzulkan. Atau dia diizinkan oleh Allah swt untuk menyelesaikan masa tugasnya hingga 2014.

Tulisan ini saya tutup dengan kalimat berikut : Dua dari 9 tokoh yang berada dibelakang proses mundurnya Soeharto adalah alumni Gontor, mereka adalah Almarhum Cak Nur dan Cak Nun. Beliau berdua berjabat tangan dan bersumpah bersama di Istana Negara pada malam sebelum Soeharto menyatakan mundur, bahwa beliau berdua tidak akan mengejar salah satu posisi strategis dalam kepemimpinan Republik Indonesia. Panca Jiwa Pondok Modern benar-benar mereka pegang teguh.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Comments (1)

  • amirulbahri

    |

    tuntaskan dulu kasus century dengan hak angket…^_^
    tapi walau bagaimanapun, era SBY lebih baik dari segi keterbukaan informasi, demokrasi dan kebebasan berekspresi rakyat untuk mengadu keluh kesah bahkan tunjangan gaji…hehehe

    chayo….^_^

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.